Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Orang Selingkuh?


Di banyak obrolan warung kopi hingga diskusi kelas menengah di kota besar, satu pertanyaan terus berulang: “Mengapa orang bisa selingkuh?” Fenomena yang dianggap tabu itu, pelan-pelan berubah menjadi bagian tak terelakkan dari dinamika hubungan manusia modern. Namun, di balik drama rumah tangga, percakapan bergosip, dan unggahan media sosial, ada temuan-temuan ilmiah yang menunjukkan bahwa perselingkuhan bukan hanya persoalan moral, tetapi juga soal psikologi, kesempatan, dan struktur sosial yang lebih dalam.

Fenomena perselingkuhan selalu menciptakan kehebohan publik baik ketika muncul dari rumah tangga selebritas, ruang kerja pejabat publik, hingga kisah sederhana pasangan biasa yang tiba-tiba karam di tengah jalan. Namun di balik sensasi yang tampak di permukaan, ada lapisan-lapisan psikologis dan sosial yang jauh lebih kompleks daripada sekadar godaan sesaat. Sains menunjukkan bahwa perselingkuhan adalah hasil pertemuan antara kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi, dorongan biologis yang tak disadari, kesempatan yang terlalu dekat, dan perubahan budaya yang pelan-pelan menormalkan pelarian emosional. Penelitian Kristen Mark dari Archives of Sexual Behavior mengungkap bahwa ketidakpuasan emosional dan seksual adalah pemicu terbesar seseorang terlibat hubungan di luar pasangan. Ketika seseorang merasa tidak didengar, tidak diperhatikan, atau tidak lagi mengalami keintiman seperti dulu, ia dapat menemukan kenyamanan dari tempat yang paling tak terduga sebuah percakapan kecil, perhatian ringan, atau kehadiran baru yang memberi ruang aman yang hilang dari hubungan utama. Temuan David Atkins dalam Journal of Family Psychology memperkuat gambaran itu: konflik kecil yang tidak selesai, rutinitas yang menggerus kehangatan, atau jarak emosional yang dibiarkan menganga menjadi lahan subur bagi retakan yang semakin melebar.

Namun kisah perselingkuhan tidak berhenti di ranah emosional. Ia juga berakar pada mekanisme biologis yang bekerja tanpa banyak kita sadari. Helen Fisher, antropolog biologis yang tulisannya terbit di Springer, menjelaskan bagaimana sistem dopamin di otak mendorong sebagian individu untuk mencari pengalaman baru dorongan yang dalam situasi tertentu dapat mengalahkan komitmen jangka panjang. Ketika hubungan memasuki fase datar, kehadiran sosok baru menghadirkan sensasi yang membuat otak “hidup kembali”. Penelitian Tsapelas, Fisher, dan Aron dalam buku The Dark Side of Close Relationships II menunjukkan bahwa daya tarik baru sering muncul saat hubungan utama kehilangan gairah, sebuah fenomena yang di mata ilmuwan bukan soal moralitas, melainkan respons biologis yang sulit dikendalikan tanpa kesadaran yang kuat dari kedua pihak.

Kepribadian juga memainkan peran yang tak kalah besar. David Schmitt dalam penelitian lintas 48 negara yang dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa individu yang impulsif, pencari sensasi, dan memiliki orientasi seksual lebih bebas cenderung lebih mudah tergoda untuk berselingkuh. Sementara studi Whisman dan rekannya dalam  Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa orang dengan kecenderungan neurotik mudah marah, sensitif berlebihan, dan cepat gelisah lebih rentan mencari pelarian emosional ketika hubungan dilanda tekanan. Di titik inilah perselingkuhan kadang muncul bukan sebagai tindakan yang direncanakan, melainkan reaksi spontan terhadap ketidakstabilan emosi.

Namun harus diakui, perselingkuhan sering kali terjadi bukan karena niat, tetapi karena kesempatan. Dalam riset Treas & Giesen di Journal of Marriage and Family, pekerjaan yang menuntut mobilitas tinggi, interaksi intens dengan rekan kerja, atau jam kerja panjang yang menciptakan kedekatan emosional dapat membuka celah tak terlihat. Ketika hubungan di rumah sudah mulai renggang, kedekatan yang dibangun melalui tugas, perjalanan dinas, atau sekadar obrolan panjang seusai rapat dapat berubah menjadi sesuatu yang melampaui batas. Temuan Atkins pun menyebutkan hal yang sama: hubungan yang tidak cukup kuat bisa runtuh hanya karena satu kesempatan yang datang di waktu yang salah.

Kekuasaan pun menjadi faktor penentu yang sering luput dari perhatian publik. Penelitian Lammers dan timnya dalam Psychological Science menunjukkan bahwa individu yang memiliki posisi berkuasa lebih berisiko terlibat perselingkuhan. Kekuasaan menciptakan perasaan kebal terhadap konsekuensi, rasa percaya diri berlebih, serta anggapan bahwa mereka dapat melanggar norma tanpa terjerat sanksi sosial. Tidak heran jika berita tentang pejabat atau pemimpin organisasi yang tersandung skandal perselingkuhan muncul dengan pola yang hampir sama dari tahun ke tahun: rasa tak tersentuh melahirkan kelengahan moral.

Di era digital, penyebab perselingkuhan juga semakin berlapis. Media sosial menjadi ruang baru bagi keterikatan emosional yang semula tak berbahaya. Penelitian Clayton dalam Cyberpsychology, Behavior and Social Networking mengungkap bahwa percakapan kecil di Facebook atau Instagram dapat berkembang menjadi hubungan emosional yang lebih intim daripada hubungan fisik itu sendiri. Kedekatan digital sering kali memberi rasa aman dan kenyamanan yang membuat seseorang berani membuka sisi-sisi dirinya yang tidak pernah dibagi kepada pasangan.

Tidak kalah penting, budaya populer melalui film, drama, musik dan media sosial perlahan menormalkan gagasan bahwa hubungan alternatif adalah bagian dari kompleksitas cinta modern. Riset Shackelford dan koleganya yang terbit melalui Journal of Research in Personality menunjukkan bahwa ketika lingkungan sosial semakin permisif, batas moral pun ikut mengendur. Tsapelas dalam penelitiannya juga menemukan bahwa generasi muda kini menunjukkan toleransi lebih tinggi terhadap perselingkuhan emosional dibanding generasi sebelumnya, terutama karena paparan media yang menampilkan drama perselingkuhan sebagai alur romantik yang bisa dimaklumi.

Pada akhirnya, perselingkuhan tidak pernah berdiri sendiri. Ia bukan semata soal niat buruk atau dorongan seksual sesaat, melainkan cermin dari dinamika manusia, kebutuhan untuk merasa dihargai, dorongan mencari kebaruan, ketidakstabilan emosi, kesempatan yang terbuka, tekanan kekuasaan dan budaya yang terus berubah. Memahami faktor-faktor itu bukan untuk membenarkan perselingkuhan, melainkan untuk menyadari bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang dirawat dengan komunikasi, kejujuran dan kesediaan untuk menambal retakan sebelum berubah menjadi jurang. Dan mungkin di situ letak tantangannya: menjaga kehangatan cinta di dunia yang penuh godaan dan gangguan.

Posting Komentar untuk "Mengapa Orang Selingkuh?"